Aku bisa melihat jelas dengan mataku. Walau pada umumnya anak yang baru lahir matanya enggan terlalu jelas melihat semua yang ada. Aku pun adaPada hari pertama aku lahir, aku membuka mata, aku melihat semua yang indah, sayangnya ketika itu aku masih enggan berbicara fasih. Bibirku masih seperti bisu, maklum saja saat itu pertama aku dilahirkan. Ibuku berjuang demi aku, lahirnya aku di dunia dan aku bisa melihat dunia begitu indah. Ya, nyatanya aku lahir tepat, selamat, sehat. Wajah ibu begitu bahagia ketika aku sudah keluar dari rahimnya, di samping ibu yang melahirkanku, aku begitu hangat dalam dekapan ibu, perlahan semua cinta, kasih, dan sayang ibu tumbuhkan aku sebagai anak yang akan cinta, dan sayang, pada wanita yang akan menemani keganjilanku pada saat sendiri.
Bebarapa saat 11 tahun kemudian...
Saat itulah, saat tepat, aku baru mengenal seorang wanita, dia baik, dia cantik, dia manis, dia, dia, dia, dan dia, ah sudahlah terlalu panjang aku menjelaskan. Aku mengenalnya, tepat saat aku bertemu dan memperkenalkan diri, kujabat tangannya, begitu hangat kurasakan jabatan tangannya. Kupikir aku yang kepananasan, atau aku saja yang grogi memperkenalkan diri kepadanya? Bicaraku dalam hati, penuh keheranan. Ah tenyata hanya perasaan grogi di selimuti cinta saat memperkenalkan diri kepadanya, sebutku (masih) dalam hati sambil tersenyum kepadanya. Tepatnya dia bernama Bunga, aku bernamakan Rifki. Perlahan-lahan aku mengenalnya begitu banyak, dia pun sebaliknya sama juga. Ah, ternyata ini sudah terlalu jauh untukku rasa, tepatnya aku terlalu jauh cinta padanya, pada cinta, padanya yang bernama Bunga, ucapku sambil tersenyum memandang fotonya. Ini lucu, tertawaku, sambil berkata kalo aku jatuh cinta sejak pertama bertemu, yah, nyatanya mau gimana lagi. Toh hati tidak bisa di bohongi, ini saat semua jelas, aku jatuh cinta padanya, saat baru kenal, yang namanya Bunga…
Seiring berjalannya waktu, aku sendiri begitu merasa dekat, aku sudah mengenalnya begitu jauh rasanya, sejauh waktu, hari, tahun, bulan, yang sudah berlalu—berganti begitu jauh rasanya. Kurasa begitu nyaman saat ada di sampingnya, begitu juga saat aku mengajaknya untuk jalan temaniku, hati pun ingin selalu bersamanya—selalu… Ah, entah kenapa begitu hati ingin selalu ada di sampingnya, nyatanya begitulah isi hatiku yang terdalam, tersenyumku sambil berkata dalam hati. Dia selalu saja tersenyum padaku, aku pun bahkan sering membalas lempar senyum paling manis, ah kupikir senyumku tak semanis ini saat tersenyum kepada temen-temenku, apa ini yang di namakan jatuh cinta pada seorang wanita luar seperti dia (Bunga)? Tanyaku dengan hati berbunga sambil (masih) tersenyum manis, kupikir iya, atau mungkin tidak sama sekali, dan ternyata mungkin bahkan lebih mungkin tepatnya iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa teriakku dalam hati
Dan mungkin saat ini adalah yang tepat, kukatakan padanya, bahwa saat ini aku jatuh dalam cinta, pada sebuah nama yang kusebut; kamu (Bunga), bicaraku dalam kamar selagi aku memikirkan rasa cintaku padanya. Ah, lagi dan lagi aku tersenyum manis di dalam kamarku sendiri, sambil memandangi foto-fotonya yang begitu indah kulihat. Apakah ini tepat? Apakah ini saatnya? Dan apakah ini mungkin aku katakan padanya? Bahwa aku ingin menjadi kekasihnya, dengan penuh cinta yang ada dalam hatiku. Ah,terlalu banyak aku bertanya pada diri sendiri, toh hatiku berkata ingin mengatakan cinta padanya, iya tepat saatnya aku akan mengatakannya untuk hari besok yang segera datang bersamaku, bersamanya.
Setelah kemudian hari di mana aku ingin mengatakan cinta pada bunga datang
Tepat pagi, menjelang siang hari, aku mengajaknya untuk jalan berdua, menikmati siang mentari yang lumayan panas untuk kulit, hehehehe tertawaku dalam hati yang begitu riang gembira. Bebarapa tak lama kemudian kami sampai di tempat tujuan, tempat di mana aku bisa mengatakannya, aku bisa bersamanya, aku bisa memandang senyum manis di wajahnya, tempat itu adalah kafe, menurutku ini tepat sekali untuk kami berdua…
Kami berdua pesan apa yang ingin di pesan, dengan menu yang ada kami pun memesan menu tersebut. Ah, lagi dan lagi diriku sendiri bertanya pada diri sendiri, apa aku harus mengataka cinta ini? Sudahlah ini mungkin saatnya tepat, dan sangat tepat mengatakannya. Tanpa basa-basi aku memanggil namanya, Bungaaaaaaa, iyaaaaaaa ada apa? Bunga mendengar sapaanku memanggilnya dengan tersenyum. Akhirnya aku pun mengatakannya, dengan kata-kataku sendiri yang sengaja kusiapkan dari tadi malam… Bunga kamu mau gag jadi sepasang cinta—bersama—dalam kita, ucapku sambil tersenyum dengan serius. Bunga terkejut mendengarkan kata-kataku yang kuucap padanya, apa bener yang kamu katakan itu? Tanya Bunga padaku lagi. Iya aku mengatakannya itu penuh kebenaran, dan tanyaku sekali lagi, maukah kamu Bunga? Bunga masih tersenyum tanpa jawaban, dan Bunga malam berkata itu pesanan kita udah ada, makan dulu yuk, ah ternyata aku menunggu jawaban Bunga, Menu kami yang pesan pun kami lahap. Aku menanyakan sekali lagi pada Bunga, gimana mau gag kamu Bunga? Habisin dulu dong makanan kita, baru bicara, kan gag enak makan sambil bicara, kata Bunga padaku. Aku meng-iya-kan yag di katakana Bunga, sambil tersenyum (lagi)...
Sesaat kemudian makanan yang di pesan sudah habis di lahap kami berdua
Gimana Bunga, mau gag kamu? Tanyaku, lagi. Hmmmmm Bunga tersenyum lagi padaku dengan manisnya, dan aku pikir itu iyakan mau deh, hehehehe tertawaku dalam hati. Dan akhirnya, ketemulah titik dari apa yang aku kataka pada Bunga, dia menjawab dengan lantang dan wajah yang berseri-seri dengan senyuman manis, dan dia mau jadi kekasihku… Aku pun memeluknya tanpa ragu di sebuah kafe tempat berdua makan, Bunga juga mau kupeluk. Aku mengatakannya lagi; “Bunga, tahukah kamu, ini saatnya tepat, di mana aku, cinta, jatuh dalam yang di namakan cinta, pada namamu, oh Bunga, tersenyumku saat mengatakan, dan dia pun jadi kekasihku pada akhir titik cinta yang jatuh padanya (Bungaku).”