Sabtu, 26 November 2011

Subuh, Menjelma Cinta Kasihmu, Dan Kasih-Mu

Malam panjang yang begitu lelap
ketika harus tidur untuk menutup malam
Malam panjang yang begitu gelap
tanpa cahaya-cahaya lampu yang ada di rumah
Malam panjang yang begitu gemerlap
bintang-bintang hadir mengisi gelapnya malam-malamku
Malam panjang yang begitu pekat
berteman sepi adalah ketika harus tanpamu untuk sementara

Kini
tibalah malam panjang yang harus berkesudahan
yang menjelma pristiwa subuh menjelang pagiku
Tuhan, menegurku dengan isyarat orang-orang yang mengomandangkan adzan subuh
Aku terbangun dengan penuh keringat, begitu mimpi yang penuh kelelahan saat tidur
Kubasuh mukaku, dan lalulah aku beranjak pergi untuk ke Mushola terdekat rumah

Pristiwa subuhku
adalah menjelma cinta kasihmu
dan Kasih-Mu yang bertaut indah dalam subuhku menjelang pagiku

Kamis, 24 November 2011

Segala Ingatanku, Adalah Tentangmu Yang Kulupa. Manis, Yang Hanya Kuingat

Tiada hari tanpa merindu
Tiada hari tanpa bayangmu
Tiada hari tanpa sapaanmu
Tiada hari tanpa senyummu

Mungkin ini yang dinamakan cinta, indah selalu tercipta untukku
Mungkin, hanyalah isyarat bahwa cinta begitu indah dengan mengirimkan segala tentangmu
Sebab, tentangmu adalah ingatan yang selalu kuingat dan kulupa. Hanyalah manis, kuingat
Mencintaimu, adalah seperti rasa bertambahnya waktu. Begitu pun rasa kian bertambahnya cinta
Terciptalah rindu dalam ingatan, yang selalu kuingat
Segala tentangmu yang manis kuingat, hanyalah bersamamu
Begitu juga cinta, pada dasarnya harus ada jarak. Biar kita, saling merindu
Tuhan mengerti segalanya, apa yang dia lakukan untuk kita
Tinggal kita yang saling tabah bersama cinta, selalu


Dengan tidak mengusaikan kita, pintaku padamu

Senin, 14 November 2011

Ternyata Cinta

Sekarang baru kupahami
Keperkasaan diriku memar
Dihantam godam asmara si dia
Kisah Romeo berkelebat dalam otakku
Luluh jiwaku ditembus panah aprodite

Adaku telah dicuri
Porak-poranda ruang batinku dibuatnya
Asmara mencaplok sadarku dalam rintihan jiwa-jiwa kesepian
Bergetaran mendamba sesosok bayang
Naungi pantulan diriku dalam kelamnya

Kini aku terperangkap
Terkurung dalam jebak-jebak asmara
Terasa lugu menanti dalam getaran yang tak kenal lelah
Sebelum menyusuri elok parasmu
Dan menggenggam nafasmu dalam dekapan penuh rindu

Kecemburuan

Hati ini begitu cemburu
Cemburu pada jemarimu nan menari mencipta paduan kata
Cemburu pada pena nan terus kau gores untuk sebuah karya
Sungguh kecemburuan ini membuatku berdarah

Berkata ingin mencipta karya
Tapi apa?
Hanya sebuah ketidakberdayaan akan semangat
Semangat itu tak berada pada jemariku
Bagaimana aku menulis?
Ketika penapena kering akan tinta semangat
Bagaimana akan ada karya indah?
Ketika ketidakberdayaan menguasai jemari dan tintaku

Aku cemburu pada kalian
Kalian yang bisa menarikan jemari
Dan menggoreskan pena dengan semangat membara
Pena dan jemariku cemburu padamu

Sabtu, 12 November 2011

Dua Hati Yang Tak Bisa Menyatu

Mengarahkan rindu pada objek
Memandang fotomu yang tersenyum
Menanti cintaku kau sambut
Tak bisakah sedikit kau buka hatimu
Sebab, aku ingin ada di hatimu saat ini

Kau begitu jauh, tak tergapai oleh tanganku
D isini pun aku berteman sepi, tanpamu di sini
Segitukah sifatmu yang keras, menentang hatimu sendiri
Di sini kuhanya bisa memandangmu yang tak bisa kumiliki
Penaku begitu peka menuliskan tentang hatiku saat ini
Selesainya penaku menulis...., masih saja hatiku sendiri menahan pilu
Kau masih belum jadi milikku...

Selesailah akhir penaku menulis
Cinta adalah tak harus memiliki
Begitupun dua hati yang tidak bisa dipaksa untuk menyatu
Hanya terlintas.., kau kisah indah dalam hidupku -- selamanya

Purnama Tua

Langkah lunglai anak remaja
Mencoba pecahkan kesunyian
Tanpa akan pekat malam menghilang
Langkah kecewa dan marah
Langkah lunglai tak berkawan arah
Tak pula merasa sendiri
Matanya terpesona purnama tua

Meski kau tak menerangi
Cukuplah baginya menerangi
Cahayamu bagai sepuhan emas
Menawan tiap tatapan

Disaat langkahnya terhenti
Seakan ingin hempaskan beban
Beban pikiran memaksa melangkah
Melangkah jauhi semua
Semua yang telah mengecewakannya

Benih ceria tumbuhi penuhi hati
Tuk memberi ruangan tuk kepedihan
Bebannya kini terasa ringan

Segan senyum dibibir hadir
Saat tangan tanpa dunia turulur
Tawarkan kemegahan hati
Mencoba obati perih sahabat
Syukur, pinta, takut pada Tuhan meradang

Duhai purnama tua
Sahabatnya kini sedia mendengarkan gundahnya
Tulus dalam terima kasih terucap

Berasal Darinya

Katakanlah...
Kau tidak berpaling
Perhatikanlah...
Kebenaran dengan yang benar
Berikanlah...
Hidup dikehidupan
Pujian segala nikmat dan kelebihan
Pendirian teguh atas kami
Penerima sempurnakan syukur diantara mereka
Maka cahaya terang keselamatan baginya
Tiada gelisah, kecuali kau
Melapangkannya
Melarat cinta tiada, tanpa kau lenyapkan
Seindah pekerjaan
Seindahan keuntungan

Seburuk persoalan
Sebagus kehidupan
Sesungguhnya...
Keindahan ialah keindahannya
Kecantikan ialah kecantikannya
Kekuatan ialah kekuatannya
Tugas pasti kau menjaga
Mohon pertolongan atas hawa nafsu
Yang mengajakmu pada kejelekan
Karena semua berasal darinya...

Kasih Buat Sahabat

Kau selalu jadi bayanganku
Kebersamaan seakan menjadi tuntutan
Membuat hati gundah mungkinkah kita bersama?

Hari-hari terasa hidup bila bersama
Hariku hampa tak bernyawa, bila terpisah
Sahabatku...
Hari-hari sebelumnya candamu jadi musik indahku
Jadi sejarah yang tak terlupa
Jadi titik terang untuk hidup lebih hidup

Yang kuasa berkehendak lain
Kita harus menerimanya dengan ikhlas
Meski berat terasa kau dipanggil-Nya
Sementara aku dibiarkan sendiri
Tanpa sahabat, tanpa semangat walau aku tahu
Ada hikmah di balik semua ini

Sahabatku...
Kini aku lebih tahu betapa berharganya berartinya persahabatan
Aku selalu merindukan, menantikan  kebersamaan kita lagi
Yang tak ku tahu kapan

Selamat jalan sahabatku
Sahabatku semago kau tentram disana
Dan aku yang kau tinggalkan
Akan selalu merindukanmu, mendo'akanmu karena aku mengasihimu

Sang Waktu

Aku masih terus arungi hari
Walau sekarang, tak seelok mimpi
Segala kesombongan ini
Membawaku bagai ditelan bumi

Kurasakan kini, semua mulai mencercaku
Mereka menusuk, merajam, dan mengiris empedu
Dan satu hal yang sekarang ada dalam fikirku
Aku membutuhkanmu

Ya, namun bukan untuk membunuh sang waktu

Seperti yang kutahu di masa lalu
Sekarang, aku rasa, aku membutuhkanmu
Tuk kembali bangkitkan sang waktu

Ya, bangkitkan sang waktu
Waktu kita tertawa
Waktu kita memandang
Waktu kita tersipu
Waktu kita berangan
Dan,
Waktu kita berbagi canda

Akankah sang waktu
kembali padaku?
Dan akankah dia bawa untukku
senyum indah dari bibirmu?
Lia.....

Buat kamu, meskipun sekarang aku jauhin kamu
Aku mau kamu nunggu sampai saat itu tiba
Hingga aku berikan hati ini buat kamu
Sedari itu, tetaplah tegar dan tersenyum
Karena kalo kamu gak senyum
Dunia bakalan sedih, dan
Aku bakalan sangat sedih

Hingga Kuterlelap

Memendam rasa
Tak bisa ungkapakan rangkaian kata
Sebutir cinta telah tumbuh
Serpihan harapan telah menghilang

Pejamkan mata sejenak
Hanya untukmu
Memberi kenyataan dalam khayalan
Untuk bisa milikimu

Hingga kuterlelap
Aku takan menyesali
Hingga aku tak terbangun
Akan kubawa cinta ini selamanya

Sebuah Penantianku

Setelah lelah berjalan
Menghitug masa silam
Mereka reka masa depan
Semua yang kita lalui

Kata berguguran
Kuingin kau hadir
Tidak berupa bayang lagi
Aku ingin
Bersandar di bahumu

Menanti Dirimu

Tak bernyawa langkah hati menanti
Sebuah jawaban dari pujaan hati
Menanti dengan sejuta harap dimimpi
Hingga gundah seakan menemani

Setiap gerakan hati melampaui
Ketakutan akan kehilangan mimpi
Mimpi akan datangnya hari
Bersama sang belahan hati

Teriakkan Isi Hatiku

Di saat terpikir tentang dia
Yang entah ada di mana
Terkadang hati teriak dengan kehampaannya
Mencari dan menunggu hati cintanya

Kumenangis tanpa air mata
Kuteriak tanpa suara
Hanya merasakan sakitnya hati
Begitu tersiksa menunggu yang di nanti

Begitu berat melepaskan rasa ini
Yang sudah merasuk dalam hati
Mungkin bila aku nanti mati
Sesalku akan abadi

Akankah penantian ini berujung bahagia
Ataukah hanya asa semata
Tapi hatiku kan selalu tegar menghadapinya
Walau akhirnya hanya membuat luka

Menggapai Awan

Menggapai awan sepenuh jiwa
Berbekal tulang, asa dan cinta
Terkadang hampa, sesak di hati
Terkulai lesu tangisi diri

Namun aku bangkit teguhkan hati
Masihlah ada awan menanti
Walau menempuh jalan mendaki
Akan kucoba langkahkan kaki

Sampai aku jatuh terdera batu
Ragaku kaku hati membeku
Seolah tak kuasa untuk melaju
Terduduk ragu menangis pilu

Aku coba lagi kumpulkan asa
Tabahkan hati cairkan luka
Terus melangkah terus mendaki
Menggapai awan sampai aku mati

Di Sudut Senja

Burung-burung berkicau,
hinggap dari satu pohon ke pohon lain,
Angin bertiup menggerakkan pohon serasa alunkan irama yang selaras dengan kicauan burung, pohonpun bergoyang nikmatinikmati indahnya orkestra alam…
Mentari bersinar...
membawa cahaya gemerlapan...
bawa semangat baru,
Ah namun aku hanya terduduk di sudut senja mengintip keindahan..
Hanya bisa mengintip saja...
setelah tak ada lagi suara ungkapkan semuanya..
habis.. dalam bisu... Lelah...

Sajak Tak Teraba

Awan di alam raya
Wujudnya ada
Tak teraba

Yang hidup di alam fana
Wujud ada
Juga teraba

Yang tak ada wujud
Tak teraba
Karena senyawa dalam ruh
IA

Akar Yang Retak

Kepada si tidak setia
Jawaban apa yang akan aku beri
Bila ia kembali nanti
Jika dia bertanya
Mengapa kamar sepi?
Haruslah aku jawab
Karena dia aku sendiri

Saat dia meminta
Untuk ditemani
Bisakah bibirku
Tak bergetar
Menahan haru

Pasti tidak
Suka kursi
Ruang tamu
Tempat menanti
Hadirnya
Bersama luka

Karena mimpi
Dia bunuh mimpi
Dia pergi
Hanguskan harap
Yang aku pupuk
Dengan akar
Yang retak

Darahku Merindu

Mawar, di manakah rerimbunmu
Mawar, di manakah wangimu
Mawar, di manakah kelopakmu
Mawar, di manakah kumbangmu
Mawar, di manakah madumu
Mawar, di manakah tangkaimu
Mawar, ada darah di durimu
Mawar, ciumlah anyirnya yang ungu
Mawar, itu darahku yang merindu
Sebab, mawarmu telah layu, tidak seperti dulu
yang mampu bertahan lama untuk tidak layu
Sekali lagi, darahku untuk merindu!