Selasa, 05 November 2013

Tersudut


Tersudut
pagiku enggan mau beranjak pada siang
masih saja embun kian berjatuhan
denting-deting senyummu tepat jatuh pada ingatan
sesekali aku ingin membalas senyummu
walau itu mungkin akan terlihat konyolnya aku
tersenyum pada embun

Tersudut
rinduku masih saja mengebu-ngebu memanggil nama yang di rindu
namun tak tahu pastinya apakah aka nada rindu jua untukku?
Ya entahlah..

Tersudut
semua yang tertulis ialah hanya yang tertulis namun apa yang kurasa kutuliskan saja
hingga nyeri di dada ini sedikit terbagi pada puisi-puisiku..
pada akhirnya jua sedikit dada ini begitu lapang pada kesedihan yang tertulis
pun yang hanya dirasa saja

Simfoni Rindu


Malam begitu hening

seakan diri mati pada sepi


Kenangan satu persatu hadir tanpa diundang

sepi ini ialah keramaian akan masa lalu

masih saja bersama kenangan

mungkin saja yang manis kali ini hadir

bukan untuk yang pahit

namun angin seakan menari-nari bersama rindu

alunan musik angin kali ini berbeda

menghantarkan getar dada

menikam sepi yang begitu nyata

simfoni rindu, kali ini benar-benar dahsyat!

“AKU MERINDUKANMU, MASA LALUKU”





Pagi Minggu Yang Malu-Malu


Terbangun aku pada lelapku
mataku terbuka untuk melihat sinar mentari pagi
rasanya lelah penatku sudah menghilang sedari waktuku lelap
dan pagi membuatku tak pernah lelah

Minggu pagi yang malu-malu
kulihat senyummu di balik jendela kamarku
lalu, aku bertanya “Itukah kau yang tersenyum? Mengapa begitu samar-samar?”
dan angin berhembus di depanku, seakan menjawab tanyaku
namun tak dapat kudengar bisik angin
hanya kebisingan suara angin, dan senyummu yang melekat pekat
disuatu tempat yang kurasa tepat untuk kusimpan
: pada ingatanku



Keegoisanmu

Cinta telah jatuh padamu, pada yang memang aku cintai. Namun setelah waktu berlalu begitu jauh, aku menemukan: Rindu telah berganti menjadi pilu, warna merah menjadi warna abu-abu. Kau tahu? Apa kau ingin kuberi tahu? -- Jika memang jawabanmu ingin, baiklah kujawab. Bagaimana kita sambil bersantai di kedai kopi dekat pantai yang indah, dan bahkan pernah kita ke sana; di sana akan kuceritakan semuanya "kenapa rindu menjadi pilu, warna merah menjadi warna abu-abu"

Kita telah duduk di kedai kopi yang pernah kita kunjungi, memesan menu apa yang hendak dipesan, walau kita berbeda apa yang dipesan. Waktu terus berjalan, pesanan kita tidak kunjung datang. Aku bersua "bagaimana aku mulai saja cerita apa yang ingin kuceritakan, tentang apa yang pernah ucapkan?" "Terserah kau, aku siap mendengarkan, tepat di depanmu!" Sanggahmu

"Rindu menjadi pilu, warnah merah jambu menjadi warna abu-abu" itu adalah sebuah kesakitanku, di mana kau adalah yang aku cintai namun apa yang dibalas; kau mencintai orang lain dengan baik, dan aku menjadi keegoisanmu -- aku merintih kesakitan menerimanya, sedangkan dia tersenyum manis menerima cintamu yang begitu baik. Semula warna merah jambu itu hatiku yang pernah kau cintai, dirindukan, dan dimengerti. Namun seketika itu hanyalah awal mulanya saja, akhirnya tidak

Dia adalah yang berada di atas penderitaanku. Sadarkah kau? Tolong beri aku bahagia itu, sebab satu bahagiamu yang pasti tanpa dibagi akan membuatku bahagia berkali-kali

"Sudah selesai kau berceritanya?" Tanyamu. "Sudah selesai! Apa kau dapat merasakannya?" Tanyaku lagi. "Maaf, aku tidak ada waktu, aku ingin pergi dengannya" sanggahmu. "Baiklah, jika kau pergi sekarang aku tidak akan menahanmu lagi" jawabku lagi -- (Yang terpenting aku sudah bercerita apa yang ingin kuceritakan, jika kau tidak menanggapinya dengan baik, tidak masalah)

Aku tahu, cinta yang baik dialah yang baik membagi hatinya kepada satu orang yang memang dia cintai, bukan seperti dialah yang baik menurutku namun dia membagi hatinya kepada selain aku. Sebab, itulah aku membiarkanmu pergi bersama orang yang kau cintai dengan baik; sejauh mungkin tanpa aku melihatnya lagi 

-- Biarlah.. biarlah... sepi menjadi temanku, pada malam yang sedang turun hujan dan aku menjadikanmu kenangan