Selasa, 05 November 2013

Tersudut


Tersudut
pagiku enggan mau beranjak pada siang
masih saja embun kian berjatuhan
denting-deting senyummu tepat jatuh pada ingatan
sesekali aku ingin membalas senyummu
walau itu mungkin akan terlihat konyolnya aku
tersenyum pada embun

Tersudut
rinduku masih saja mengebu-ngebu memanggil nama yang di rindu
namun tak tahu pastinya apakah aka nada rindu jua untukku?
Ya entahlah..

Tersudut
semua yang tertulis ialah hanya yang tertulis namun apa yang kurasa kutuliskan saja
hingga nyeri di dada ini sedikit terbagi pada puisi-puisiku..
pada akhirnya jua sedikit dada ini begitu lapang pada kesedihan yang tertulis
pun yang hanya dirasa saja

2 komentar:

  1. eksplorasi lagi, bro... coba kenapa kesedihan itu datang, apa sebabnya, bagaimana rasanya? selain seolah pagi nggak mau beranjak ke siang. biar puisinya makin kuat, ada gagasan terang yang bisa kita sampaikan. bukankah sedih, gundah ada sebabnya? hehehe

    lanjut menulis lagi :)

    BalasHapus
  2. Berarti aku perlu eksplorasi lagi ya Mas Irwan, iya sih puisi yang aku buat masih ke eksplorasi banget. Oke siap, tidak hentinya belajar nulis puisi. Makasih udah mampir Mas Irwan :D

    BalasHapus