Selasa, 07 Januari 2014

Inikah Penyesalan?


Berkali-kali kutuliskan puisi cinta
berkali-kali kutuliskan puisi rindu
berkali-kali kutuliskan puisi tentang apa yang kutangkap
berkali-kali kutuliskan puisi sayang
: Hanya untukmu

Sesekalinya aku merasa hampa, dan perlahan tenggelam pada sepi
malam yang begitu hening, hanya ada bintang-bulan-angin-dan bayangmu
sudihkah kau di sana kesini untuk sekadar bertamu?
atau mungkin kutawarkan saja, sudihkah kau kemari untuk bersamaku pada sepi?
Pilihlah yang mana kau suka, aku hanya menunggu jawabmu

Sepi…
Kau tak ada jatuhkan dalam dua pilihan
lantas, aku mencintaimu percumakah?
lantas, sekalian aku mengharapkanmu percumakah?
pun tanyaku berlewat bersama angin
satu tanya lagi tiba
"inikah namanya penyesalan?" – lagi dan lagi sepi…

Kita Yang Mencoba Terbang Dengan Kedua Sayap

Pada setiap senyummu
sesuatu merekah
seperti bunga yang indah berwarna putih
; aku menyebutnya cinta

Aku melihat sepasang bola matamu
pada ke dalaman yang diam
Cinta, membuncah di dada
-- Diam-diam aku mencinta

Kau tahu cinta seperti apa, kekasihku?
Cinta itu seperti kupu-kupu
yang terbang dengan kedua sayapnya
Kita, juga bisa

"Bagaimana caranya?" Kau bertanya

"Aku mencintaimu
Kau juga mencintaiku
saat itu mungkin adalah cara untuk kita terbang dengan kedua sayap
menuju muara segala kebahagiaan" Jawabku

Apakah kau siap mencobanya?
Jika yang kau suarakan "Aku siap mencobanya!"
Kita akan terbang lepas landas tapi dengan ketenangan
Sebab, kita bersama-sama dengan penuh cinta


Jika

Jika aku tidak lagi mencintaimu
barangkali cinta sudah berlalu bersama angin yang berhembus di depanku
tapi yang harus kau tahu
cintaku abadi -- mencintaimu tidak henti

Jika aku mencintaimu tidak henti
aku semakin belajar
dan terus belajar
sampai aku tabah
di peluk rasa kesakitan
seperti jantung yang tertusuk belati
bahkan belati yang tidak tahu bentuknya seperti apa

Jika aku bertahan
mungkin secara perlahan
aku ialah hembusan
kau tahu hembusan apa?
Hembusan yang menyuarakan kepedihan

Jika aku mendengar tawamu
ketika aku sedang menyuarakan kepedihan
mungkin kau adalah orang yang sedikit mengundang tanya
atau mungkin kau sedikit humoris
namun banyak mengundang kesakitan yang begitu sadis


Aku Benci Kau Mendua!


Cinta sudah terlanjur mencintaimu dengan setia
Jangan kau sayatkan hingga luka pada cinta
Sebab dialah yang paling setia mencinta
Sekali luka, bahkan ingin cinta tiada
Dan meminta jangan kembali berucap cinta
Percuma katanya
Mungkin ada beberapa cara
menyayat cinta yang setia ini penuh luka
Menduanya cinta       
Jiwa-jiwa sungguh ingin berdamai saling setia
Lalu menerbangkan beberapa harapan
ke langit lepas, dan menemui harapan nyata
Kau setia
Tanpa mendua
Sebab itu aku, benci kau mendua!