Jumat, 25 Mei 2012

Kita Yang Berada Begitu Dekat Dalam Foto



Tertanggal tepat 1 Desember, kita saling berjabat tangan; memperkenalkan diri kita satu sama lain. Kau begitu tersenyum, saat aku menjabat tanganmu; pun aku tersenyum saat kau tersenyum padaku
Peristiwa kita saling mengenal itu tepat malam hari; hari dimana kekasihmu sedang berulang tahun
ya kupikir kekasihmu, ternyata memang kekasihmu. Tersentak dengan hati yang begitu akan terkoyak seperti baru jatuh dalam jurang yang paling dalam; hingga tak bisa untuk bangkit.

Jauh rasanya sudah aku mengenalmu, ya begitu jauh rasanya. Sesaat pertemuan kita terjadi, dimana kau, aku, dan kekasihmu sedang berada dalam menikmati perjalanan. Kita saling tersenyum, berbagi canda tawa satu sama lain; termasuk kekaihmu yang ada disampingmu tepat. Aku hanya begitu melapangkan dada sesaat dada begitu berada pada sesak yang bahkan tak seperti biasanya. Memperlihatkan senyum dengan begitu tabah didepanmu, dan didepan kekasihmu, aku terlihat seperti biasa-biasa saja didepanmu; sama seperti aku tersenyum melihatmu tepat peristiwa ulang tahun kekasihmu.

Setelah waktu beranjak dengan begitu cepat menurut pemikiranku sendiri, ya begitu cepat kurasa waktu berlalu. Selalu ada yang kurasa dalam setiap perkenalanmu dan perkenalanku, tapi tak begitu banyak kurasa; hanya manis saat aku merasanya, seperti mengemut permen yang begitu manis dimulutku.

Lalu, aku tak pernah ingat kapan kita berada dalam foto berdua? ya bahkan aku tak mengingat sama sekali; manislah yang hanya kuingat saat bersamamu berada pada foto kita. Sejak saat berada dalam satu foto kita, terlintas rasa sunyi yang akan bersamaku kelak; ya rasa sunyi, saat kau begitu jauh dariku. Dan nyatanya kita yang berada dalam foto, adalah tanda akhir dari sebuah perpisahanmu untuk berada begitu jauh padaku, bahkan satu pesan dari handphoneku tak kau balas; sesaat aku sekadar hanya menyapa sekalian tanya kabarmu bagaimana: Bahagiakah kau disana? Adakah airmata kesedihan yang tercipta diraut wajahmu yang selalu ada dalam ingatanku? Disini aku terus tanpa henti bertanya pada sebuah kesunyian; nyatanya hanya sebuah tetap akhir yang dipertanyakan. Hanya hening, senyap sunyi seperti bernyanyi dan menari-narikan rindu, berupa angin yang berhembus didepanku.