Selasa, 05 November 2013

Keegoisanmu

Cinta telah jatuh padamu, pada yang memang aku cintai. Namun setelah waktu berlalu begitu jauh, aku menemukan: Rindu telah berganti menjadi pilu, warna merah menjadi warna abu-abu. Kau tahu? Apa kau ingin kuberi tahu? -- Jika memang jawabanmu ingin, baiklah kujawab. Bagaimana kita sambil bersantai di kedai kopi dekat pantai yang indah, dan bahkan pernah kita ke sana; di sana akan kuceritakan semuanya "kenapa rindu menjadi pilu, warna merah menjadi warna abu-abu"

Kita telah duduk di kedai kopi yang pernah kita kunjungi, memesan menu apa yang hendak dipesan, walau kita berbeda apa yang dipesan. Waktu terus berjalan, pesanan kita tidak kunjung datang. Aku bersua "bagaimana aku mulai saja cerita apa yang ingin kuceritakan, tentang apa yang pernah ucapkan?" "Terserah kau, aku siap mendengarkan, tepat di depanmu!" Sanggahmu

"Rindu menjadi pilu, warnah merah jambu menjadi warna abu-abu" itu adalah sebuah kesakitanku, di mana kau adalah yang aku cintai namun apa yang dibalas; kau mencintai orang lain dengan baik, dan aku menjadi keegoisanmu -- aku merintih kesakitan menerimanya, sedangkan dia tersenyum manis menerima cintamu yang begitu baik. Semula warna merah jambu itu hatiku yang pernah kau cintai, dirindukan, dan dimengerti. Namun seketika itu hanyalah awal mulanya saja, akhirnya tidak

Dia adalah yang berada di atas penderitaanku. Sadarkah kau? Tolong beri aku bahagia itu, sebab satu bahagiamu yang pasti tanpa dibagi akan membuatku bahagia berkali-kali

"Sudah selesai kau berceritanya?" Tanyamu. "Sudah selesai! Apa kau dapat merasakannya?" Tanyaku lagi. "Maaf, aku tidak ada waktu, aku ingin pergi dengannya" sanggahmu. "Baiklah, jika kau pergi sekarang aku tidak akan menahanmu lagi" jawabku lagi -- (Yang terpenting aku sudah bercerita apa yang ingin kuceritakan, jika kau tidak menanggapinya dengan baik, tidak masalah)

Aku tahu, cinta yang baik dialah yang baik membagi hatinya kepada satu orang yang memang dia cintai, bukan seperti dialah yang baik menurutku namun dia membagi hatinya kepada selain aku. Sebab, itulah aku membiarkanmu pergi bersama orang yang kau cintai dengan baik; sejauh mungkin tanpa aku melihatnya lagi 

-- Biarlah.. biarlah... sepi menjadi temanku, pada malam yang sedang turun hujan dan aku menjadikanmu kenangan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar