Cinta
telah jatuh padamu, pada yang memang aku cintai. Namun setelah waktu berlalu begitu jauh, aku menemukan: Rindu telah berganti
menjadi pilu, warna merah menjadi warna abu-abu. Kau tahu? Apa kau ingin
kuberi tahu? -- Jika memang jawabanmu ingin, baiklah kujawab. Bagaimana
kita sambil bersantai di kedai kopi dekat pantai yang indah, dan bahkan
pernah kita ke sana; di sana akan kuceritakan semuanya "kenapa rindu
menjadi pilu, warna merah menjadi warna abu-abu"
Kita
telah duduk di kedai kopi yang pernah kita kunjungi, memesan menu apa
yang hendak dipesan, walau kita berbeda apa yang dipesan. Waktu terus
berjalan, pesanan kita tidak kunjung datang. Aku bersua "bagaimana aku
mulai saja cerita apa yang ingin kuceritakan, tentang apa yang pernah
ucapkan?" "Terserah kau, aku siap mendengarkan, tepat di depanmu!"
Sanggahmu
"Rindu
menjadi pilu, warnah merah jambu menjadi warna abu-abu" itu adalah sebuah
kesakitanku, di mana kau adalah yang aku cintai namun apa yang dibalas;
kau mencintai orang lain dengan baik, dan aku menjadi keegoisanmu -- aku
merintih kesakitan menerimanya, sedangkan dia tersenyum manis menerima
cintamu yang begitu baik. Semula warna merah jambu itu hatiku yang pernah kau cintai, dirindukan, dan dimengerti. Namun seketika itu hanyalah awal mulanya saja, akhirnya tidak
Dia adalah yang berada di atas penderitaanku. Sadarkah kau?
Tolong beri aku bahagia itu, sebab satu bahagiamu yang pasti tanpa
dibagi akan membuatku bahagia berkali-kali
"Sudah
selesai kau berceritanya?" Tanyamu. "Sudah selesai! Apa kau dapat
merasakannya?" Tanyaku lagi. "Maaf, aku tidak ada waktu, aku ingin pergi
dengannya" sanggahmu. "Baiklah, jika kau pergi sekarang aku tidak akan
menahanmu lagi" jawabku lagi -- (Yang terpenting aku sudah bercerita apa yang ingin kuceritakan, jika kau tidak menanggapinya dengan baik, tidak masalah)
Aku
tahu, cinta yang baik dialah yang baik membagi hatinya kepada satu orang
yang memang dia cintai, bukan seperti dialah yang baik menurutku namun
dia membagi hatinya kepada selain aku. Sebab, itulah aku membiarkanmu
pergi bersama orang yang kau cintai dengan baik; sejauh mungkin tanpa aku
melihatnya lagi
-- Biarlah.. biarlah... sepi menjadi temanku, pada malam yang sedang turun hujan dan aku menjadikanmu kenangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar