Pada
sebuah kafe aku duduk bersama kawan-kawan, melakukan percakapan beberapa
hal. Sesambil menyeduh kopi atau bisa juga untuk makan-makan. Kurasa
kafe belum masih terlalu banyak pengunjung, aku bahkan mengamatinya
Ah,
aku seperti kurang kerjaan saja mengamati pengunjung kafe yang telah
datang lebih awal, tapi memang bukankah aku tidak ada kerjaan; hanya
bisa memainkan handphone sesambil menyeduh kopi yang sudah siap.
Sementara itu, kawan-kawan kubiarkan sibuk mempermainkan apa yang
mereka hendak mainkan, sambil menggiringi tawa-tawa mereka yang lepas ke
atas langit
Jarum
jam terus bergerak, menggiringi waktu seberapa lama kami bersantai
disebuah kafe. Teng, teng, teng, seperti ada yang berbunyi, seakan
inilah penyambutan seseorang yang entah siapa dan aku tidak kenal sama
sekali -- Mereka datang, dengan beberapa orang. Yang kutahu Perempuannya
lebih banyak. Mereka duduk, dalam satu meja, memesan apa yang
ingin dipesan
Saat
menunggu pesanan, mereka punya cara masing-masing; membakar rokok salah
satunya -- Iya, si Perempuan yang membakar rokok itu. Dan sepertinya aku
mengamati mereka yang membakar rokok, sesambil menggelangkan kepala.
"Inikah yang kau banggakan atas dirimu bisa membakar rokok dihadapan
orang banyak?" ucapku dalam hati lagi. Tapi,
jika mereka bisa membaca isi hatiku, maka "Untuk apa kau tanyakan kami
seperti itu, bukankah kau juga perokok, tapi aku tahu kau lelaki, kami
Perempuan" sanggah mereka. "Oh iya, apakah kau pernah baca pada bungkus
rokok? Atau ingin aku bacakan di depanmu yang sedang membakar rokok?"
Balasku dalam hati
--
Aku bodoh, mengapa aku melepaskan khayalan: di mana aku dan Perempuan
yang membakar rokok bisa membuat percakapan dalam hati!
Ada kecemasan saat aku melihat Perempuan yang membakar
rokoknya, apalagi sampai terbawa saat sudah bersuami, penjelasannya pun
ada pada kotak bungkus rokok, tidak perlu aku menuliskannya pada puisi
ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar