Selasa, 05 November 2013

Ada Kecemasan Saat Aku Melihat Perempuan Membakar Rokoknya

Pada sebuah kafe aku duduk bersama kawan-kawan, melakukan percakapan beberapa hal. Sesambil menyeduh kopi atau bisa juga untuk makan-makan. Kurasa kafe belum masih terlalu banyak pengunjung, aku bahkan mengamatinya

Ah, aku seperti kurang kerjaan saja mengamati pengunjung kafe yang telah datang lebih awal, tapi memang bukankah aku tidak ada kerjaan; hanya bisa memainkan handphone sesambil menyeduh kopi yang sudah siap. Sementara itu, kawan-kawan kubiarkan sibuk mempermainkan apa yang mereka hendak mainkan, sambil menggiringi tawa-tawa mereka yang lepas ke atas langit

Jarum jam terus bergerak, menggiringi waktu seberapa lama kami bersantai disebuah kafe. Teng, teng, teng, seperti ada yang berbunyi, seakan inilah penyambutan seseorang yang entah siapa dan aku tidak kenal sama sekali -- Mereka datang, dengan beberapa orang. Yang kutahu Perempuannya lebih banyak. Mereka duduk, dalam satu meja, memesan apa yang ingin dipesan

Saat menunggu pesanan, mereka punya cara masing-masing; membakar rokok salah satunya -- Iya, si Perempuan yang membakar rokok itu. Dan sepertinya aku mengamati mereka yang membakar rokok, sesambil menggelangkan kepala. "Inikah yang kau banggakan atas dirimu bisa membakar rokok dihadapan orang banyak?" ucapku dalam hati lagi. Tapi, jika mereka bisa membaca isi hatiku, maka "Untuk apa kau tanyakan kami seperti itu, bukankah kau juga perokok, tapi aku tahu kau lelaki, kami Perempuan" sanggah mereka. "Oh iya, apakah kau pernah baca pada bungkus rokok? Atau ingin aku bacakan di depanmu yang sedang membakar rokok?" Balasku dalam hati

-- Aku bodoh, mengapa aku melepaskan khayalan: di mana aku dan Perempuan yang membakar rokok bisa membuat percakapan dalam hati! 

Ada kecemasan saat aku melihat Perempuan yang membakar rokoknya, apalagi sampai terbawa saat sudah bersuami, penjelasannya pun ada pada kotak bungkus rokok, tidak perlu aku menuliskannya pada puisi ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar