Terbangun
aku pada lelapku
mataku
terbuka untuk melihat sinar mentari pagi
rasanya
lelah penatku sudah menghilang sedari waktuku lelap
dan
pagi membuatku tak pernah lelah
Minggu
pagi yang malu-malu
kulihat
senyummu di balik jendela kamarku
lalu,
aku bertanya “Itukah kau yang tersenyum? Mengapa begitu samar-samar?”
dan
angin berhembus di depanku, seakan menjawab tanyaku
namun
tak dapat kudengar bisik angin
hanya
kebisingan suara angin, dan senyummu yang melekat pekat
disuatu
tempat yang kurasa tepat untuk kusimpan
: pada ingatanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar