Kangen
itu selalu tumbuh
menjalari
seluruh tubuh
bagai
air yang selalu mengalir
Hanya
ia yang mengerti
Lalu,
biarkanlah angin menyapu pasir
membawanya
terbang bertemu awan bersimpuh
menanti
kening langit tidak berkerut lagi
Lalu,
ia kehilangan cahaya surya
berganti
kelabu beku, sampai kau menangis
berteriak
dan menghasilkan petir
dan
ketika tangis terasa tidak berarti
Dia
datang menghampirimu
ketika
ia tahu kau menderita karena dia
Tentu
untuk menahan rasa kangen
yang
tidak kausampaikan padanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar